Ketua DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten Masrur saat membersihkan puing-puing bekas hantaman tsunami Selat Sunda di Cigeulis, Banten (foto: Adi Fikri)


Oleh: Muhammad Sholich Mubarok
Masrur Saifullah sudah menjadi Ketua DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten, selama lima tahun. Selama itu, ia melewati episode-episode yang bervaria rasa. Kadang memicu adrenalin.
Hari H saat bencana datang menerjang Selat Sunda, ia langsung ditugaskan oleh Ketua DPD untuk survei ke lokasi bencana. Tepatnya keesokan harinya pada pukul 07.00 WIB. Jam di mana orang-orang berlarian ke bukit.
"Kayak konyol juga, yang lain pada lari mengungsi ke bukit, saya malah (mendekati) lokasi bencana," kata dia saat ditemui di lokasi bencana di Desa Banyu Asih, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Senin (31/12/2018).
Ada seorang warga yang bertanya, "Pak mau ke mana? Kami mau mengungsi." kata dia menirukan.
Ia berusaha mendapatkan dokumentasi bahwasanya itu adalah bencana. Angin sedang kencang-kencangnya, hujan tak bisa dielakkan. Apalagi ada desas-desus air sedang pasang.
Dengan naik motor seorang diri, ia menembus batas maut itu. Motornya bukan motor laik untuk wilayah 'naik-turun'. Tapi motor matic saja. Ia dihantam ketakutan tapi keberanian untuk membantu sesama, menguatkannya.
Bergegas setelah mendapatkan gambar ia lapor ke DPD. Pihak DPD segera mengirimkan bantuan logistik dari kabupaten dan turun memberikan bantuan. Meski pasokan logistik belum banyak.


Ia pulang ke kecamatan Sumur untuk koordinasi dengan Ketua DPC lainnya yakni Uung Daelamie. Posko pertama yang didirikan oleh kader PKS berada di Labuan. Posko induk. Lalu berbagai posko di berbagai titik yang terkena dampak bencana. Relawan PKS mulai banyak yang terjun termasuk Masrur.
Relawan juga memasak untuk kebutuhan para korban. Mendirikan dapur umum sementara."PKS sudah melakukan evakuasi di berbagai wilayah. Saya difokuskan di kecamatan Cigeulis, Banyuasih. Kami sudah bermalam dua hari satu malam," kata bapak muda dengan satu anak itu.
Relawan PKS juga membantu toilet sementara juga membereskan tempat-tempat sholat. Untuk sandang dan pangan sudah sangat cukup.
Masrur meminta izin kepada unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas dan diperbolehkan para relawan tinggal di sekolah dasar untuk sementara.
Para korban itu bisa tidur di dalam kelas. Sementara Masrur dan relawan PKS tidur di teras sekolah. Ubinnya tak kalah dingin. [pks.id]
Diberdayakan oleh Blogger.